Sabtu, 04 April 2009

Mekanisme Penyebaran TBC

Sumber penularan adalah penderita TB. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan bakteri ke udara dalam bentuk droplet. Droplet yang mengandung bakteri dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi apabila droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama bakteri TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernapasan, bakteri TB tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran napas, atau penyebaran langsung ke bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya bakteri yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif, maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.
Resiko penularan setiap tahun Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1 - 2 %. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1 %, berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk, 10 (sepuluh) orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita TB, hanya 10 % dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TB. Dari keterangan tersebut diatas, dapat diperkirakan bahwa daerah dengan ARTI 1 %, maka diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 100 (seratus) penderita TB setiap tahun, dimana 50 % penderita adalah BTA positif.
Penyakit TB banyak menyerang orang yang memiliki kekebalan tubuh yang lemah. Orang-orang lanjut usia yang pada pada masa kanak-kanaknya pernah terserang tuberkulosis dan mereka yang hasil tes HIV-nya positif menjadi sasaran utama TB. Janin bisa tertular dari ibunya sebelum atau selama proses persalinan karena menghirup atau menelan cairan ketuban yang terkontaminasi. Sistem kekebalan seseorang yang terinfeksi oleh TB biasanya menghancurkan bakteri atau menahannya di tempat terjadinya infeksi. Kadang bakteri tidak dimusnahkan tetapi tetap berada dalam bentuk tidak aktif (dorman) di dalam makrofage (sejenis sel darah putih) selama bertahun-tahun. Individu yang demikian telah terinfeksi namun tidak mengalami penyakit yang aktif dengan demikian tidak dapat menyebarkan ke organisme lain. Namun bila pertahanan tubuh menurun infeksi tersebut dapat diaktifkan kembali dan dapat menular yang secara potensial mengancam kehidupan. Sekitar 80% infeksi TB terjadi akibat pengaktifan kembali bakteri yang dorman. Bakteri yang tinggal di dalam jaringan parut akibat infeksi sebelumnya (biasanya di puncak salah satu atau kedua paru-paru) mulai berkembang biak. Seseorang yang terinfeksi oleh TB memiliki peluang sebesar 5% untuk mengalami suatu infeksi aktif dalam waktu 1-2 tahun.
TB aktif dimulai di paru-paru (tuberkulosis pulmoner). TB yang menyerang bagian tubuh lainnya (tuberkulosis ekstrapulmoner) berasal dari TB pulmoner yang telah menyebar melalui darah. Infeksi bisa tidak menyebabkan penyakit, tetapi bakteri tetap hidup dorman di dalam jaringan parut. TB yang bisa berakibat fatal dapat terjadi jika sejumlah besar bakteri menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Infeksi ini disebut tuberkulosis milier. Pelepasan bakteri sewaktu-waktu ke dalam aliran darah dari luka yang tersembunyi bisa menyebabkan demam yang hilang-timbul disertai penurunan berat badan secara bertahap

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar