Jumat, 28 Agustus 2009

IPTEKS BAHARI

BAB I
PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang
Indonesia sebagai Negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia karena memiliki ekosistem-ekosistem pesisir. Perairan Indonesia merupakan laut tropis yang mengandung stok sumber daya biotik melimpah yang dapat dieksploitasi tanpa membahayakan kondisi kelangsungan sumberdayanya.
Secara realitas, keterlibatan masyarakat Bahari dalam pengolaan sumber daya hayati laut mempunyai peranan penting. Salah satu mata pencaharian masyarakat yang bermukim di sekitar pesisir adalah nelayan. Hasil yang diperoleh dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sebagian dikomsumsi bersama keluarga.
Selanjutnya jenis peralatan yang digunakan, sebagian besar masyarakat bahari masih menggunakan peralatan yang belum memadai. Peralatan yang digunakan sebagian besar bersifat manual artinya mengandalkan kondisi alam dan kemampuan melaut yang diperoleh secara turun temurun.
Kondisi diatas menunjukkan bahwa kemampuan dalam pengelola hasil yang diperoleh dinilai masih sangat rendah dan belum mencapai sasaran. Hal ini disebabkan rendahnya pemahaman masyarakat Bahari terhadap efektifitas dan efisiensi pengelolaan serta jenis peraltan yang digunakan masih minim.
Oleh sebab itu Pengetahuan dan Teknologi Bahari perlu dikaji guna meningkatkan kemampuan pengelolaan sumberdaya hayati terkait dengan penggunaan peralatan yang memadai.

I. 2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka diperoleh 2 (dua) pokok masalah sebagai berikut :
Sejauh mana pemahaman masyarakat terhadap IPTEKS bahari ?
Bagaimana Perkembangan Sistem Pengetahuan Budaya Bahari di Indonesia ?

I. 3. Batasan Masalah
Agar kejadian ini lebih fokus, maka ditentukan batas permasalahan yang akan dibahas sebagai berikut :
Istilah dan pengertian IPTEKS Bahari
Golongan masyarakat Bahari
Hubungan Masyarakat dan IPTEKS Bahari
Unsur-unsur Budaya Bahari
Sistem Pengetahuan Budaya Bahari di Indonesia


BAB II
PEMBAHASAN

II. 1. PENGERTIAN
a.Pengetahuan.
Segenap apa yang kita ketahui tentang sesuatu objek tertentu termasuk didalamnya adalah ilmu.Dengan demikian ilmu merupakan pengetahuan yang diketahui oleh manusia.Khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh.manusia memikirkan hal-hal baru,menjelajah ufuk baru karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup,namun lebih dari itu,manusia selalu mencoba mengembangkan pengetahuannya sehingga mereka menjadi makhluk yang bersifat khas dimuka bumi ini. Lain halnya dengan binatang,walaupun memiliki pengetahuan namun pengetahuan itu terbatas hanya untuk kelangsungan hidupnya.
Pengetahuan terdiri atas 2 yakni :
1.Pengetahuan non ilmiah /sains semu :
Pengetahuan yang diperoleh terutama dengan mengandalkan perasaan,keyakinan tanpa diikuti proses pemikiran yang cermat.
2.Pengetahuan ilmiah / metode ilmiah :
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pemikiran yang rasional,pengalaman empiris (Fakta) maupun referensi pengalaman sebelumnya.

b.Ilmu
Ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat tertentu,yakni :
Logis/masuk akal
Objebtif,Metodik
Sistimatik,berlaku umum universal,komulatif berkembang dan tentatif.
Dengan demikian tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu, namun dapat dikatakan bahwa “ pengetahuan ilmiah “ disebut juga dengan ilmu pengetahuan

c.Teknologi
Teknologi berasal dari bahasa yunani Techton berarti ketrampilan
Logos berarti Kata,pikiran ,alasan
Teknologi adalah kecerdasan pengalaman praktis dari pengetahuan tentang ketertiban alam dan manusia yang dapat diwujudkan dalam bentuk dunia kebendaan dan dunia kecerdasan sendiri.
Pada awalnya teknologi berhubungan dengan tugas explotasi dan pengolahan sumber daya alam berupa materi dan energi seperti kapak,tombak,panah dan peralatan lain yang bersifat kebendaan,sedangkan cara-cara pembuatan rumah,perahu,teropong,makanan,minuman obat-obatan dan cara – cara lainnya bersifat kecerdasan.
Spectrum jenis teknologi sekarang membentang dalam semua aspek kehidupan dan penghidupan manusia,apabila diurutkan bentangan tersebut mencakup :
Teknologi Exploitasi : Berburu,menangkap ikan,memetik,bertani,
Menambang dan menyadap energy
Teknologi pengolahan : Merebus,memanggang,fermentasi,pengaraman
Mengkonversi energy dll.
Teknologi kenyamanan : Membuat pakaian,pagar,rumah,dan perkakas-
Nya,tungku pemanas,meramu obat-obatan dll.
Teknologi Transportasi : Menjinakan hewan liar,membuat rakit,perahu
Kapal,mobil,pesawat udara,jalan,jembatan dll.
Teknologi informasi : Tv,media,hp,computer dll

d.Seni

Pengertian seni yang terdapat dalam ensiklopedia Indonesia menyatakan bahwa “ seni adalah penciptaan segala hal atau benda yang karena keindahannya orang senang melihatnya atau mendengarkannya.
Didalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak,kita tidak dapat lepas dari seni. Seni melekat pada hampir semua aspek kehidupan manusia,lahirnya seni selalu bersaman dengan kebutuhan manusia,karenanya gerak seni selalu dinamis dan berkembang mengikuti laju perkembangan manusia dan zaman

II. 2. Masyarakat dan IPTEK Bahari
Beberapa kategori Masyarakat Bahari secara garis besar teridiri dari penduduk nelayan pesisir dan pulau, pelayar/pengusaha, transportasi/perhubungan laut, pemanfaatan sumber daya dan jasa-jasa laut lainnya.
Untuk lebih jelasnya kategori masyarakat Bahari dapat digambarkan sebagai berikut :
Penduduk Nelayan Pesisir dan Pulau-Pulau :
Penduduk nelayan di Indonesia pada umumnya menghuni daerah pesisir pulau-pulau besar dan memenuhi pulau-pulau kecil yang sangat banyak jumlahnya terbentang dari Sabang hingga Merauke. Mereka ini, dikategorikan sebagai penduduk nelayan karena sebagian besar atau penghuninya menggantungkan kehidupan ekonominya secara langsung atau tidak langsung pada pemanfaatan sumber daya perikanan laut dengan menggunakan berbagai, tipe perahu, jenis-jenis alat teknik eksploitasi, dan lain sebagainya.
Dilihat dari sumber pendapatan ekonominya, terdapat sebagian penduduk nelayan yang disamping hidup dari menangkap ikan dilaut, juga mengandalkan sumber-sumber lainnya seperti pelayaran/usaha transportasi laut, bertani padi, sawah, berladang mengelolan tambak, berdagang, beternak dan lain-lain. Terdapat sebagian penduduk nelayan, terutama di pulau-pulau besar dan kecil yang padat penduduknya (Jawa dan Madura, Sapudi Kangean, Bawean, Sulawesi-Selatan, Buton). Telah memusatkan aktivitasnya pada penangkapan ikan. Selain dari penduduk pesisir dan pulau-pulau kecil, sejak tahun 1980-an tumbuh dan berkembang perusahaan-perusahaan perikanan modern, yang mengelola dan tenaga kerjanya banyak direkrut dari berbagai tempat berpisah (perkantoran, desa-desa pedalaman, pesisir dan pulau-pulau) yang memiliki pengetahuan dan keterampilan formal.
Meningkat pesatnya penduduk Indonesia dan semakin menipisnya peluang-peluang mata pencaharian di darat (daerah perkotaan dan pedalaman) memungkinkan penduduk nelayan dengan usaha perikanan intensif akan meningkat drastis.
b. Pelayar / Pengusaha Transportasi Laut
Pelayar (Pengusaha dan Pekerja Transportasi Laut), merupakan kategori penduduk pemangku budaya Bahari, tulen. Banyak kalangan ilmuan terutama Sejarawan, menganggap para nelayan sebagai kelompok-kelompok masyarakat maritim murni, karena dicirikan dengan aktivitas pelayarannya. Mengarungi lautan antar pulau, antar negara dan bahkan antar benua. Penduduk pelayar tradisional di Indonesia biasanya relatif terkonsentrasi di daerah pesisir dan jasa pulau-pulau. Sedangkan anggota kelompok-kelompok awak kapal besar dan modern direkrut dari para lulusan akdemi atau perguruan tinggi kelautan yang berasal dari keluarga-keluarga mampu di kota-kota dan desa-desa pedalaman.

Berbeda dengan penduduk nelayan yang pada umumnya digambarkan sebagai masyarakat miskin, keluarga-keluarga pelayar dan saudagar justru banyak dicirikan dengan kondisi sosial ekonomi stabil sebagai golongan masyarakat Bahari yang kaya di Indonesia ini.
c. Pengguna Sumber Daya Dan Jasa-Jasa Laut Yang Lain
Termasuk dalam kategori penduduk pengguna jasa-jasa laut lainnya, selain nelayan dan pelayar, ialah para pedagang hasil-hasil laut, pengelolan/tukang dan pekerja industri perahu/kapal dan alat-alat tangkap yang bermukim bersama keluarga-keluarga nelayan di wilayah pesisir dan pulau-pulau, para petambang batu karang dan pasir laut, petambang migas dan mineral, pengelola industri pariwisata dan wisatawan, penyelam, wisatawan dan bahkan Marinir/AL dan satuan-satuan tugas keamanan laut lainnya sedikit banyak bisa dikategorikan sebagai penduduk dan warga masyarakat Bahari. Meskipun sebagian besar dari mereka ini tidak menghuni kawasan pemukiman pesisir dan pulau-pulau.

II.3. Perkembangan Sistem Pengetahuan Budaya Bahari Di Indonesia.
Kebudayaan Bahari terdiri dari beberapa aspek yang saling terkait secara keseluruhan. Aspek-aspek tersebut berupa sistem-sistem ide/gagasan, pengetahuan, kepercayaan, nilai, norma/aturan, bahasa/komunikasi, kelembagaan/organisasi sosial, ekonomi, teknologi dan seni kebaharian. Berikut disajikan gambaran singkat tentang aspek-aspek budaya bahari dengan menggunakan budaya nelayan dan pelayar material, untuk lebih jelasnya dapat diuraikan singkat sebagai berikut :
Sistem Pengetahuan
a.Pengetahuan Pelayaran
Aktifitas pelayaran, masyarakat Bahari membutuhkan pengetahuan-pengetahuan tentang musim, kondisi, cuaca dan suhu, kondisi dasar dan tanda-tanda lainnya untuk menentukan waktu-waktu memulai melakukan pelayaran, kelancaran, kebersihan dan keselamatannya. Masyarakat Bahari, khususnya nelayan dan pelayar di nusantara ini mempunyai pengetahuan tentang dua musim utama, yaitu musim barat dan timur, yang menentukan waktu intensif atau sepinya aktivitas pemanfaatan sumber daya laut dan pelayaran. Pembagian dan karakteristik masing-masing pola musim tersebut sebagai berikut :
Bulan 12 – 16 : Berlangsungnya musim barat dengan hujan lebat, angin/badai besar dan arus kuat dari arah barat ke timur tidak atau kurang memungkinkan aktivitas nelayan dan pelayanan rakyat.
Sebaliknya musim timur berlangsung antara 7 – 12 di tandai dengan angin dan arus agak lemah dari timur ke barat, memberikan peluang besar bagi nelayan dan pelayanan rakyat beroperasi secara intensif.
Dari musim barat ke timur ada musim peralihan yang berlangsung selama kurang lebih 3 bulan (bulan 5 – bulan 7) membawa angin dengan guncangan ombak kurang menentu tak henti-hentinya.
Nelayan pulau sembilan, khususnya penangkap kerapu (sunu dalam istilah lokal) mempunyai pengetahuan munculnya sunu dan ikan karang besar lainnya, yaitu antar bulan 10 – bulan 4.
Mengenai perubahan musim, perubahan cuaca dan suhu, kondisi air laut, kondisi dasar yang mempengaruhi (positif,negatif) aktivitas pelayaran dan eksploitasi sumber daya laut/Perikanan, pelayar dan nelayan Bugis dan Makassar misalnya berpedoman pada perangkat pengetahuan mereka tentang tanda-tanda di laut angkasa berupa kital, awan hitam, bunyi kemudi perahu, cahaya laut, yang dihubungkan dengan peristiwa atau hal datangnya angin kencang, angin tornado adanya batu karang, mahluk berbahaya seperti gurita dan lain-lain. Denga hal ini nelayan dan pelayar mendasarkan pengetahuannya dengan indra pakkita (penglihatan), parengkalingan (pendengaran), paremmau (penciuman), papenedding (firasat) dan tentuang (keyakinan).

Pelayar dan nelayan mempunyai perangkat pengetahuan tentang lokasi-lokasi berbahaya, seperti selat-selat dimana banyak pusaran air (kala-kala dalam istilah bugis dan makassar), tempat dimana berdiam banyak hiu, gurita dan paus. Pengetahuan tempat-tempat keramat dihuni hantu-hantu laut, demikian juga tempat aman untuk di lalui dan beristirahat selain itu nelayan juga mempunyai pengetahuan tentang kondisi dasar (dalam, dangkal, berpasir berlumpur, berbatu-batu, rata, landai, curam) dan kondisi air laut terutama ombak dan arus.
Khusus untuk aktivitas pelayaran, pelaut-pelaut bugis makassar dan bajo menggunakan pengetahuan astronomi dengan dasar letak bintang-bintang seperti sulo bawi (muncul disebelah timur, menandakan akan datangnya angin timur), warawarae (menandakan akan datangnya panas terik), bintang tanrae (menandakan akan datangnya angin kencang) manue (menandakan musim barat mulai datang dan tellu-tellue (petunjuk berlayar ke arah barat atau timur).
b. Sistem Pengetahuan Tetang Klasifikasi Biodata Laut Bernilai Ekonomi.
Klasifikasi, pengetahuan tentang biodata laut bernilai, ekonomi yang dimiliki, oleh komuniti-komuniti, nelayan bisa berbeda-beda dari satu tempat ketempat lainnya, baik dalam penanaman maupun jumlahnya. Klasifikasi pengetahuan lokal tersebut seperti, berikut :
Ikan Karang : Nelayan Jawa dan Madura masing-masing mengetahui 80-an dan 60-an jenis ikan bernilai, ekonomi, nelayan Bugis dan Bajo pulau sembilan (Sinjai). Mengetahui tidak kurang dari 60 jenis ikan dan lebih dari 20 jenis ikan pelagik di laut dalam dan dangkal. Bagi nelayan pengguna karang di Sulawesi Selatan sejak lebih dari 10 tahun terakhir, jenis-jenis sunu, kerapu, ketampa langkoe (napoleon dalam istilah pasarnya) merupakan komuditi, ekspor andalannya. Ekor kunig, banjara, sinrili dan jenis ikan berkelompok sebagai tangkapan utama nelayan pembom dari Sulawesi Selatan.
Undang Laut : Nelayan pulau mengenal kurang lebih 20 jenis teripang. Diantaranya yang mahal harganya ialah teripang koro, teripang buang kulit asli, teripang nanas, teripang pandang (diurut dari yang termahal). Sedangkan para pedagang teripang di Makassar mengetahui tidak kurang dari 40 jenis teripang yang laku di pasar.
Bagi nelayan pulau sembilan berbagai klasifikasi biota liar dan tidak liar seperti penyu (sisi’ nama lokal), hiu (diambil siripnya), siput/kerang (mutiara, lola, kima, mata tujuh, dll), akar bahar biota laut dan agar-agar merupakan tangkapan utama nelayan diekspor sejak abad ke-16.
Dibandingkan dengan pengetahuan scientis yang mengetahui (nama latin) ribuan jenis ikan laut, demikian juga biota lainnya, pengetahuan nelayan lokal adalah miskin. Ini disebabkan oleh karena nelayan hanya perlu memberi nama ika-ikan bernilai ekonomi, berfungsi, simbolik, berbahaya, dan berfungsi praktis lainnya.
c. Pengetahuan Tentang Perilaku Ikan dan Biota Laut Lainnya.
Masyarkat nelayan dimana-mana mempunyai pengetahuan tentang perilaku ikan dan spesis-spesis biota laut lainnya yang menjadi tangkapannya. Misalnya :
Nelayan penangkap ikan zalm di Amerika Tengah dan Canada mengetahui persis pola perkembangbiakan dan musim migrasi ikan zalm dari sungai-sungai besar ke laut lepas kemudian kembali lagi ke habitat utamanya disungai-sungai besar.
Nelayan Eropa mengetahui pola perilaku ikan horing (ikan berkelompok besar) di laut lepas atlantik. Nelayan Jawa dan madura, Bugis (Mandar) dan Makassar mengetahui pola perkembangbiakan dan rute-rute migrasi ikan layang yang melalui pembiakan pantai utara Jawa dan selat Makassar.
Nelayan Mandar dan Galesong (Makassar) mengetahui pola perkembangbiakan dan lokasi-lokasi ikan terbang (tuing-tuing, torani dalam istilah lokal) menurut nelayan, jenis-jenis layang dan ikan terbang hanya suka hidup di laut yang kadar garamnya tinggi.
Nelayan kerapu dari pulau sembilan mengetahui pola perkembangbiakan, tempat-tempat musim dan saat-saat munculnya ikan-ikan kerapu di pendirian gugusan karang (taka-taka dalam istilah lokal) pulau sembilan.
Bahkan nelayan tahu jenis-jenis ikan suka hidup dalam atau dangkal; didasar pesisir atau berlumpur ; di habitat terumbu karang padong lamun, hutang mangroefe atau muara-muara sungai. Nelayan mengetahui pula saat-saat muncul dan menghilangnya ikan-ikan tertentu.
Pengetahuan Tentang Lokasi Penangkapan dan Letak Rumah Ikan di Laut\
Dari akumulasi pengalaman dan warisan genarasi tua, nelayan dimana-mana mempunyai pengetahuan tentang lokasi-lokasi ikan, bahkan letak rumah-rumah ikan targetnya. Nelayan pancing sunu leong-leong dari pulau sembilan misalnya, mempunyai pengetahuan beberapa lokasi penangkapan dengan letak rumah-rumah ikan sunu disitu, antara lain seperti :
Taka / Lokasi, Karang Letak Rumah Ikan
Taka Malambere Selatan
Taka Loangnge Utara dan Selatan
Taka Pangami Ujung Timur
Taka Limpoge Utara dan Tengah
Taka Lakaranga Utara dan Selatan
Taka Legenda Timur
Taka Laborao’ Timur
Taka Alusie Timur
e. Pengetahuan Mengetahui Lingkungan Sosial.
Kelompok-kelompok nelayan dan pelayar tertentu, disekelilingi, oleh kelompok-kelompok sosial dengan mana mereka berinteraksi, bekerja sama atau bersaing memperebutkan peluang-peluang penguasaan sumber daya dan pasar, kalau bukan bahkan dianggap musuh atau penghambat. Pengetahuan tentang kondisi lingkungan sosial sekeliling tersebut digunakannya untuk menyusun siasat sebagai pengambilan keputusan/pilihan tindakan (Choice Actions). Kategori – kategori, lingkungan sosial dimaksudkan seperti :

Para pedagang hasil luat, pengusaha modal, pasar/tpi, dan lain-lain dimana-mana merupakan lingkungan sosial dengan siapa nelayan bekerja sama dan menjual tangkapannya.
Kelompok-kelompok nelayan lain yang mengusahakan jenis-jenis tangkapan sama merupakan pihak-pihak/kelompok-kelompok penyaing.
Bagi, nelayan teripang, pengguna bahan peledak atau bius dari Sulawesi Selatan misalnya, komuniti-komuniti di Maluku, Irian, Jawa dan personil keamanan laut Jawagana, Babinsa, Binmas, Kp3, Angkatan Laut yang menguasai kawasan-kawasan indung dianggapnya sebagai kelompok-kelompok atau pihak-pihak yang biasa diajak kerjasama kalau bukan justru dianggapnya perintang yang harus dihindari dilaut.

II.4.Teknologi dan Seni masyarakat bahari.
Meskipun dengan fungsi relatif sama. Namun tipe atau bentuk-bentuk teknologi pelayaran dan masyarakat ke tempat-tempat dan masyarakat-masyarakat lainnya didunia. Berbagai faktor menyumbang kepada deversiti dan variasi bentuk-bentuk teknologi kebaharian bisa dikategorikan atas faktor-faktor internal/lokal dan eksternal, berupa konteks sosial budaya, ekonomi, demografi, politik lingkungan pisik dan sumber daya alam/laut. Berbagai tipe/bentuk perahu tradisional milik kelompok-kelompok etnis di Indonesia (lihat Horridge, 1985, 1986) antara lain sebagai berikut :
Perahu Patorani (Makassar)
Lambo (Mandar)
Pinisi (Bugis)
Sandeg, Pangkur, Bago (Mandar)
Bagang (Bugis)
Padewakang (Makassar)
Bodi tipe kapal kayu baru 1980-an (Bugis, Makassar, Bajo, Sulawesi Selatan)
Lambo (Buton)
Janggolan (Madura)
Mayara (Jawa)
Prahu Jaring (Madura)
Lis-alis, Golekan, Leti-leti (Jawa)
Jukung (Jawa)
Janggolan (Bali)
Nade (Sumatera)
Perahu-perahu Jawa dan Bali dicirikan dengan ukuran dan gambar-gambar binatang dengan kombinasi warna cet, gambar-gambar tersebut berfungsi seni. Juga memuat makna/gagasan dan keyakinan-keyakinan religius. Pinisi adalah salah satu tipe perahu Bugis dengan konstruksi yang bagus, namun kurang dari segi ukuran, warna dan motif-motif bermakna. Konstruksi ini rupa-rupanya lebih mengutamakan nilai praktis berupa fungsi keseimbangan daya muat dan kecepatan.
Teknologi penangkapan ikan di Indonesia (Lihat P.N Van Komponen, 1909) secara garis besar dikategorikan dalam :
(1). Net
(2). Pancing
(3). Bulon
(4). Alat Tusuk : Tombak, Panah
(5). Teknik Lainnya
Setiap kategori, terutama net dan pancing, mempunyai banyak variasi. Nelayan Jawa dan Madura cukup kaya dengan alat tangkap net. Net panjang saja sebagai salah satu jenis net mempunyai 7 variasi (P. Besar, P.Peperek, P. Krakkat, P. Arad, P. Kopek, P. Dedang, P. Bhorton). Sebagian besar dari jenis-jenis tersebut masih digunakan sebagian nelayan Jawa dan Madura hingga sekarang ini.
Di desa Titawai – Saparna dikenal jenis-jenis alat tangkap tradisional seperti : rumpan, jaring bobo/lingkar, j. labsi/ingsang, j.tuing-tuing/ingsang hanyut, jala, bubu, panah ikan, kolawai/tembok, yang masih tetap digunakan nelayan setempat.
Seni kebaharian bisa pula berupa nyanyai. Nelayan Urk (Belanda) kaya dengan lagu-lagu berfungsi seni dan doa-doa kepada Tuhan meminta rezki ekonomi dan keselamatan d luat. Nelayan torani (Ikan Terbang) cari Galesong (Makassar) mempunyai lagu-lagu keselamtan supra naturan memikat ikan-ikan untuk datang sendiri melompat masuk ke dalam perahu-perahu patorani di operasikannya.
Sebuah nyanyian nelayan dan pengarang Makassar yang miskin berfungsi pelipur lara, seperti berikut :
“Bulang Sumarakko Naik
Na Nu Seorok Ballaku
Na Kacinikang
Somberek Kasiasiku
Bintoeng Paleng Mammumba
Kukana Wari-Waria
Kutuju Mata
Kuparek pannyaleori”
Artinya :
Bulan Bersinar Engkau
Dan sorotilah rumahku
Sehingga tampak kemiskinanku
Bintang rupanya yang timbul
Kukira sang kejora
Kutatap, kujadikan pelupur lara.
Sistem ekonomi dipahami sebagai saling berkaitan diantara sub-sub sistem produksi, distribusi dan konsumsi dengan aspek-aspek sosial budaya lokal dan yang dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan eksternal (ekonomi pasar, demografi, institusi sosial, inovasi teknologi, kondisi lingkungan fisik dan sebagainya). Dalam pengertian sempit, setiap sektor ekonomi masyarakat, termasuk sektor-sektor ekonomi kebaharian. Cukup banyak sektor ekonomi kelautan dikembangkan masyarakat-masyarakat bahari di negara-negara tergolong maju. Sektor-sektor ekonomi kebaharian tersebut seperti pelayaran/perhubungan, perikanan pertambangan, perdagangan hasil laut, industri hasil laut, industri kapal, industri alat-alat tangkap, pengerukan pantai kawasan pelabuhan dan rute-rute pelayaran, pariwisata Bahari, jasa olah jasa Bahari, birokrasi, dan lain-lain.
Untuk Indonesia, pada kenyatannya baru sedikit diantaranya sekian banyak sektor ekonomi kebaharian yang berkembang di negara-negara maju, yang sejak dahulu kala telah di geluti dan menyentuh hajat hidup rakyat banyak, seperti sebagai berikut :
Perikanan
Perhubungan
Perdagangan
Industri dan Pertambangan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar