Jumat, 03 September 2010

Invitro Diagnostik DBD (Bagian 3)

Throuble Shootting Khusus Hitung Thrombosit dan Hematokrit pada DBD :
1. Usahakan darah diperoleh dari darah vena, karena darah vena darah lebih representatif untuk spesimen, karena pada kasus DBD terjadi kerusakan endotel dan jaringan kapiler oleh infeksi virus, sehingga bila darah diperoleh dari kapiler dikhawatirkan : thrombosit marginasi sekaligus agregasi dikapiler yang sehingga saat dihitung lebih rendah, karena terjadi perembesan cairan ke jaringan (lihat teori gejala klinik) maka hematokrit dapat terjadi rendah palsu karena tercampur cairan jaringan. Jangan menggunakan botol penampung dari plastik atau sejenisnya (polietilen), karena dapat menyebabkan thrombosit mengalami agregasi, sehingga kadarnya menurun. Tabung hampa (vacutainer) dari plastik hanya dapat digunakan untuk satu kali saja, bila dicuci maka akan larut lapisan silikon atau boron sehingga menyebabkan goresan yang berakibat agregasi trombosit.
2. Gunakan antikoagulan EDTA, karena lebih luas pemakaian, mudah didapat, morfologi sel tidak terlalu berubah. Na2EDTA lebih banyak, namun lebih bagus pakai K3EDTA. Antikoagulan lain masih dapat digunakan seperti Na sitrat 3,8%, Heparin atau lainnya.
3. Metode standar yangf digunakan untuk hitung thrombosit cara Rees Ecker bilik hitung, namun memiliki kelemahan : eritrosit tidak lisis, kotoran zat warna BCB disangka thrombosit dan sensitivitas metode ini hanya mendeteksi hingga 1 sel per 1000. Pipet darah sampai tanda 1 (pengenceran 100x), TKP 10x, 400 ktk eri dihitung semua jadi faktor hitung F = 1000 ; sel thrombosit = 1000 x jumlah sel ditemukan.
4. Metode Amonium oxalat 1% : kelebihannya eritrosit dan leukosit lisis, kelemahan thrombosit tidak berwarna, gelembung udara dapat terhitung. Kelemahan ini dapat diminimalkan dengan kombinasi Amonium oxalat 1% dengan Rees Ecker, caranya (hipotesis aku aja, perlu diteliti lebih lanjut jumlah BCB yang ditambahkan) : larutan amonium oxalat 1% 10 ml ditambahkan 1 ml rees ecker, hasilnya dibilik hitung thrombosit akan berwarna biru.
5. Metode Fonio : sulit dilakukan karena indirek, tidak dianjurkan. Kesalahan terlalu banyak karena melibatkan hitung eritrosit.
6. Metode Van Hawerden : larutan harus dibuat baru tidak tahan lama (resenter preparatus).
7. Metode plasma citrat atau plasma EDTA. Cara ini dengan cara mengendapkan darah sehingga terpisah lapisan plasma dan sel, kemudian dipipet plasma dan diencerkan dengan larutan Na.citrat 3,8% atau NaCl 0,9%, dihitung dalam bilik hitung dan diukur hematokrit pasien. Perhitungan thrombosit = PDP x TKP x KKS/KKH x (100%-%hematokrit/100%) = ....thrombosit/mm3 darah. Metode ini lebih sensitif dibandingan rees ecker dan amonium oxalat, namun perlu waktu lama untuk pemeriksaan.
8. Metode Hapusan darah (Diff Counting). Metode ini mudah dilakukan, namun perlu keahlian dalam melihat lapang pandang. Ada beberapa teman-teman analis yang berpengalaman hanya dengan melihat lapang pandang penyebaran trombosit sudah dapat memperkirakan dan menghitung trombosit. Ada juga teman-teman yang menghitung dengan menggunakan jumlah leukosit yang ditemukan per 10 LP. Semua tergantung pengalaman masing-masing. Ada asumsi bahwa 5 LP ditemukan thrombosit x 10.000 (perkiraan saja). Sebenarnya yang perlu dilihat dan diingat, bila 1 sel/LP saja diperkirakan 20.000 thrombosit, 2 sel/LP 40.000 thrombosit. Masing-masing lab memiliki jumlah perkiraan yang mungkin berbeda.
9. Hematokrit : metode lama cara makro dengan tabung wintrobe (jarang dilakukan), metode standar menggunakan mikrohematokrit dengan sentrifuge khusus dengan kecepatan standar 16.000 rpm dalam 5 menit. Umumnya dipuskesmas tidak ada memiliki sentrifuge kecepatan 10.000-20.000 rpm. Hal ini dapat diatas dengan sentrifuge biasa dengan kecepatan 1000-8000 rpm (standar). Caranya siapkan sentrifuge biasa dengan tabung besar, ambil holder (selongsong) tabung sentrifuge, siapkan stryrofoam/gabus busa, buat seukuran dengan tabung reaksi namun tepat masuk dalam holder/selongsong sentrifuge, lubangi stryrofoam seukuran tabung mikrohematokrit, siap untuk sudah holder untuk pemeriksaan hematokrit, untuk kecepatan putar hingga 4000 rpm, lamanya 20 menit (5 menit 16.000 rpm, 20 menit 4000 rpm), atau 8000 rpm 10 menit. Cara ini lumayan untuk membantu diagnosis DBD.
10. Khusus untuk hematology analyzer, perlu diperhatikan bahwa darah sebaiknya menggunakan Darah vena dengan antikoagulant EDTA. Kelebihan anticoagulant dapat berpengaruh terhadap terhadap morfologi sel, bila terlalu banyak dapat menyebabkan sel mengkerut/perubahan morfologis karena hipertonis, terlihat ada flag (platelet flag) di grafik printout. Selain itu sebaiknya pembendungan torniquete jangan terlalu lama terjadi hemokonsentrasi (tinggi palsu), kocok secara homogen darah secara melingkar sebanyak 10x atau pakailah nutator (khusus penggiling darah), jangan mengambil di vena yang trauma, jangan menggunakan EDTA cair bila darah kurang dari 0.5 ml, lakukan duplo pemeriksaan bila meragukan dengan darah yang sama, pastikan darah kontrol telah masuk dan tepat, pastikan startup background semua telah menunjukkan nilai 0 (nol) semua sel dan lainnya, untuk platelet maksimal 5, gunakan yang sesuai dengan umur, karena bila anak-anak dibawah 1 tahun dengan jarum 3 ml dapat pecah vena yang berakibat masuknya cairan jaringan untuk aktivasi jalur pembekuan jalur alternatif/ekstrinsik, meskipun dikonvensasi oleh EDTA. Terakhir bekerjalah dengan tenang dan santai.
11. Demikian Tips untuk teman-teman Lab.Puskesmas, lab. Klinik dan RS.

Oleh : Ahmad Phany Musyaffa Lab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar