Jumat, 03 September 2010

KOMUNIKASI DAN KONSELING LAB BY AHMAD LAB (RINGKASAN)

TEKNIK KOMUNIKASI DAN KONSELING LABORATORIUM

1. Belajar ilmu komunikasi dan konseling penting karena :
a. Untuk bekal tata cara berkomunikasi yang baik dan benar dengan sesama rekan kerja, teman sejawat, teman seprofesi, pasien dan keluarga pasien dalam pelayanan kesehatan khususnya bidang laboratorium.
b. Sangat membantu dalam berkomunikasi dan menyelesaikan masalah/konflik yang timbul dengan pemecahan yang bijaksana.
c. Memudahkan sebagai sebagai awal pembelajaran nantinya apabila terjun ke lapangan dalam dunia kerja dapat mengalami dan mempraktekkannya.
d. Mampu berkomunikasi dengan baik terhadap pasien dan petugas kesehatan atas segala permasalahan yang berhubungan dengan laboratorium.
e. Membina calon-calon tenaga kesehatan yang akan lulus agar berkomunikasi denga baik dan benar.
f. Mempersiapkan tenaga S1 TLK yang mampu dan memiliki kecakapan disegala hal/bidang termasuk sebagai konseling terhadap adanya keluhan pasien dan petugas kesehatan lain dengan menggunakan gaya asertif.
g. Dapat berkomunikasi dengan gaya, bahasa tubuh, intonasi dan gerak tubuh yang baik.
h. Agar tidak cemas, bingung ketika menghadapi suatu masalah dan mendapatkan kehidupan yan lebih efektif ketika bekerja.

A. Pengertian Komunikasi
Proses pengalihan pikiran dan pesan-pesan seperti sarana transportasi menyangkut barang dan manusia, dengan tanda-tanda cahaya, suara dan di dengar. (columbia, Encyclopedia)
Mekanisme hubungan antar manusia yang menyebabkan manusia itu bertahan dan berkembang melalui penyampaian simbol pikiran melalui suatu ruang dan waktu tertentu (Liliweri)


Basic Counseling and Communication Skills

A. Courtesy And Raport
• Perkenalan diri (percakapan pertama)
“Selamat pagi pak, saya analis laboratorium disini, saya akan membantu bapak, nama saya….., apa yang dapat saya bantu……”
• Respek kepada hal-hal pasien yang bersifat pribadinya.
• Menanyakan/mengetahui nama pasien sebelum memulai pembicaraan
“maaf bapak, nama bapak siapa?”. Oke bapak……ada yang bisa saya bantu sekarang”
• Menggunakan bahasa tubuh yang baik :
o Ekspresi muka (smile)
o Kontak mata
o Postur yang baik
o Jarak
o Intonasi suara
Mengontrol jarak, mimik muka ceria, menjaga kontak mata, rileks, mengatur intonasi suara
• Menjaga kepercayaan dan rahasia-rahasia pasien.
• Menjaga rahasia dan menyimpan kondisi-kondisi pasien yang anda hadapi.
• Memberikan informasi dengan baik.
• Dalam kondisi yang kurang baik pada diri kita, komunikasi dengan orang lain tetap harus dijaga agar tetap baik.
B. Persepsi
• Pendapat /pandangan yang terjadi atas komunikasi yang harus diperhatikan.
• Memahami komunikasi
• Bisa berubah setiap saat
• Berbeda-beda tiap individu
• Bahkan dapat berbeda sama sekali
C. Basic Skills
Listening : Persepsi, jangan menghakimi, menjadi pendengar yang aktif, menggunakan baha tubuh yang baik dan menjadi pendengar yang baik.
D. Informasi
• Secukupnya informasi dan tidak terlalu singkat
• Tidak bleh menggunakan jargon tertentu yang sulit dipahami
• Hindari informasi yang berlebihan (singkat, jelas, to the point)
Bagaimana kita yakin informasi sudah sampai :
• Pertanyaan yang meyakinkan bahwa informasi yang diberikan akan dilakukan oleh penerima.
• Ditekankan kembali pengarahan kepada penerima.
• Pertanyaan pembuka dan penutup didalam berkomunikasi.
E. Assesment
• Memverifikasi komunikasi yang telah terjadi/diberikan.
• Menginformasikan kembali informasi yang diberikan.
“Jadi bapak besok puasa ya, 10 jam dan pagi-pagi jam 7.30 ke laboratorium untuk diambil darah”
F. Empathy
Mengerti bagaimana kondisi/keadaan pasien yang datang.
G. Questions
• Bila melemparkan pertanyaan, ada respons dari pendengar, maka terjadi pertukaran informasi.
• Komunikasi terjalin bila terjadi interaksi antara pemberi dan penerima informasi.


ASSERTIVENESS AND PERSUASIVE

Sikap yang muncul dalam berkomunikasi :
1. Assertive
- Yakin bahwa tiap orang punya hak. Dan dia juga punya hak
- Bahasa non verbal diminimalkan
- Menghargai lawan bicara.
2. Persuasive
- Memiliki karakter lembut.
- Bahasa yang digunakan umumnya membujuk.
- Menghargai lawan bicara
- Memberikan pernyataan tegas atas hak-hak dia.
- Bersifat win-win : senang-senang
3. Aggressive
- Manipulative, controling
- Selalu mengontrol linkungan sekitarnya
- Bukan jadi dirinya sendiri
- Selalu ingin menang sendiri
- Selalu mengalahkan orang lain
- Tidak menerima pendapat orang lain.
4. Passive
- Tidak mengeluarkan pendapat, diam
- Menghindari konflik
- Ikut arus
- Menutup diri
- Tidak memberi komunikasi
- Menghindari konflik yang muncul
- Tidak membela dirinya
- Tidak punya pendapat
5. Manipulative
- Orang pasif dan agresif
- Menunda-nunda pekerjaannya
- Memanipulasi orang lain
6. Controlling

Jangan pernah melupakan dalam komunikasi, bagaimana kita mengatakan/penyampaian komunikasi yang disampaikan : apakah benar berkomunikasi dengan benar? Apakah benar intonasi suara? Apakah benar kontak mata ?

Bagaimana kita persuasif terhadap pasien dan tanpa terlihat agresif ?
- Jujurlah terhadap apa yang disampaikan dan apa yang kita kerjakan.
- Jadilah menyadari kekurangan kita, selalu jujur.
- Informasikan pesan anda setiap saat
- Simpan pertanyaan informasi penting pada kalimat-kalimat akhir.

Assertiveness Skills :
1. Terjadi konfrontasi :
- Ketika ada orang agresif, katakan tidak suka dan diam.
- Nyatakan anda tidak suka dengan sikapnya
- Katakan sikap anda tidak menghasilkan apa-apa.
2. Mengatakan tidak (Saying no)
- Menyatakan tidak/bisa dilakukan.
- Katakan tidak bila tidak senang
3. Berani membuat pernyataan
4. Ekspresi apa yang kita inginkan
5. Orang pertama membuka pembicaraan
6. Memperlihatkan percaya diri/tegas


Ethical Principle
1. Beneficience : kebaikan
Acting in the patients best interest :
- Past models doctor made decision
- Current thinking is to involve patient lotting the patient determine what is in their best interest.
Autonomy : otonom
2. Honesty (kejujuran, tulus)
Pasien berhak mendapatkan kebenaran : kondisi kesehatan, pengobatan, kemajuan pengobatan. Komunikasikan hal-hal yang penting. Misal hasil lab, jawab bahwa dokter yang berhak membaca hasil.
3. Code of Ethics States
Kondisikan bahwa ada beberapa hak dan kewajiban kita juga, batasan yang kita miliki. Bekerja untuk mengatakan kebenaran dan bersandar pada hati nurani.
4. Hubungan yang baik dibangun atas kepercayaan, kejujuran
Berlaku jujur dan membangun kepercayaan.
5. Informed Consent
- Pasien berhak mendapatkan persetujuan, hak otonomi
- Pasien berhak juga mendapatkan informasi yang penuh, segala relevan dan hal-hal yang berhubungan dengan yang didapat baik sebelum mendapatkan pengobatan.
6. Informasi relevan yang diperlukan pasien
- Harus anda jelaskan selengkapnya pada pasien.
- Siapkan agar pasien mengerti dengan informasinya.
- Apabila ada sesuatu yang diluar keahlian/profesi anda, lakukan komunikasi agar pasien mengerti informasi yang diberikan.
- Jadilah orang yang assertive terhadap pasien dan keluarga pasien.
- Jangan, dengan anda tidak berkomunikasi anda dianggap tidak profesional
- Berikan informasi terhadap pasien dengan baik, dengan kata-kata yang baik.
7. Kerahasiaan
- Anda bisa menjaga kerahasiaan pasien sesuai kode etik.
- Apabila mendapat masalah dalam menjalankan profesi anda, kembalilah kepada hal-hal kode etik yang ada, sehingga merasa terlindungi.
8. Fidelity (ketaatan pada sumpah, tugas)
Kita harus taat kepada sumpah/profesi yang telah dijalankan. Jangan menyalahkan sumpah profesi anda, berikan pelayanan yang terbaik bagi pasien.


Kesalahan yang sering dilakukan oleh Petugas lab dalam berkomunikasi dan konseling terhadap pasien :
1 Tidak mengenalkan diri sebelum membuka percakapan. “Selamat pagi pak, saya petugas lab disini, saya akan membantu bapak, nama saya….., apa yang dapat saya bantu……”
2 Tidak respek dengan hal-hal yang pribadi pasien.
3 Minim nya pengetahuan tentang ilmu klinis, ilmu teknis lab dan keterkaitan keduanya.
4 Membawa permasalahan keluarga dan masalah lain ke dalam ruang lingkup kerja sehingga pasien ikut terkena imbasnya.
5 Tidak menanyakan dahulu nama pasien sebelum memulai percakapan. “maaf bapak, nama bapak siapa?”. Oke bapak……ada yang bisa saya bantu sekarang”
6 Tidak menggunakan bahasa tubuh yang baik dan benar. Bahasa tubuh yang dimaksud : ekspresi muka, kontak mata, postur yang baik, jarak dan intonasi suara.
7 Kurang memberikan informasi yang dibutuhkan pasien.
8 Meremehkan pasien, hal ini karena melihat status social pasien dan penampilan pasien yang tidak baik. Hal ini tidak boleh terjadi.
9 Kondisi keuangan yang menipis dan memburuk terutama di akhir bulan dapat memicu berkomunikasi buruk, sedangkan diawal bulan berakibat petugas acuh tak acuh dengan pasien, yang ada dipikiran cuma menghitung keuangan dan kebutuhan rumah tangga ke depan.
10 Informasi yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan pasien dan melempar tanggung jawab bahwa dokter yang lebih tahu.
11 Kurang menjaga kerahasiaan pasien.
12 Mencaci dan menjelekkan kesalahan petugas kesehatan lain di hadapan pasien dan keluarga pasien.
13 Kurang menjelaskan tentang cara dan aturan pemeriksaan laboratorium yang didapat pasien.
14 Berkomunikasi dengan pasien tidak muncul sikap asertifnya.
15 Tidak tanggap dengan sikap pasien yang mengalami kesulitan atau bingung terhadap resep yang diterima dia.
16 Tidak menjaga atau menyimpan kondisi-kondisi pasien yang sedang dihadapi.
17 Ingat Bersikap kasar terhadap pasien, maka pasien yang hatinya dongkol akan mendoakan anda tidak baik bahkan mengumpat anda nantinya.

Berdasarkan tulisan ini maka diharapkan agar setiap laboratorium memiliki system konseling dan komunikasi yang baik dan efektif. Untuk itu dibuka atau dibuat sebuah ruangan khusus konseling pasien didekat ruang loket pendaftaran. Sudah saatnya kita dalam bekerja di laboratorium meniru system perbankan dengan pelayanan yang baik, komunikatif dan ramah.

By. Ahmad Phany Musyaffa Lab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar